<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6961852466685773558</id><updated>2012-02-16T05:21:31.290-08:00</updated><category term='Sejarah'/><title type='text'>Wahyu Hidayat</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://wahyuhidayatboerhan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6961852466685773558/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahyuhidayatboerhan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>wahyuhidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03136917016985406082</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4VU-7eq2pI/AAAAAAAAAAM/Fx4L-RNCsQ8/S220/PhotoDayat.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6961852466685773558.post-7814292312726653125</id><published>2010-02-25T08:37:00.000-08:00</published><updated>2010-02-25T08:46:25.192-08:00</updated><title type='text'>Kerajaan Penyengat</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4aoNv_9buI/AAAAAAAAAEY/p4qdfy11PPU/s1600-h/Penyengat1.JPG"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 298px; FLOAT: left; HEIGHT: 225px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442222153900322530" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4aoNv_9buI/AAAAAAAAAEY/p4qdfy11PPU/s320/Penyengat1.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4aoOAVX6kI/AAAAAAAAAEg/B6bqYZu4gNo/s1600-h/Penyengat2.JPG"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 80px; FLOAT: left; HEIGHT: 60px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442222158285105730" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4aoOAVX6kI/AAAAAAAAAEg/B6bqYZu4gNo/s320/Penyengat2.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4aoOVhS8xI/AAAAAAAAAEo/7qmnNZXZsh4/s1600-h/Penyengat3,jpg.JPG"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 80px; FLOAT: left; HEIGHT: 60px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442222163972256530" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4aoOVhS8xI/AAAAAAAAAEo/7qmnNZXZsh4/s320/Penyengat3,jpg.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4aoO7dkagI/AAAAAAAAAEw/1AD8c4FJgw0/s1600-h/Penyengat4,jpg.JPG"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 80px; FLOAT: left; HEIGHT: 60px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442222174157171202" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4aoO7dkagI/AAAAAAAAAEw/1AD8c4FJgw0/s320/Penyengat4,jpg.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;TANJUNG PINANG, KOMPAS.com — Berwisata tidak harus selalu menikmati keindahan alam atau sekadar menikmati hidangan lezat. Ada bentuk wisata yang sudah sejak lama dilakukan masyarakat bahkan ada yang menjadi bagian tradisi, yakni wisata religi, seperti berziarah atau mengunjungi makam seorang tokoh, pahlawan, maupun raja-raja. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Bila mengunjungi makam raja, selain berziarah, Anda tidak hanya mendapatkan sisi religiusnya, tetapi juga mendapat kisah dan sejarah sekaligus menikmati arsitektur bangunan makam. Seperti halnya di makam Raja Ali Haji, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Makam Raja Ali Haji (RAH) terdapat di Pulau Penyengat Indera Sakti, Kepulauan Riau. Pulau Penyengat merupakan pulau yang berjarak sekitar 6 kilometer di seberang kota Tanjung Pinang, ibu kota Kepulauan Riau. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Di pulau ini terdapat beberapa kampung dengan peninggalan pada masa Kerajaan Melayu Riau Lingga. Pergi ke Pulau Penyengat berjarak tempuh sekitar 20 menit dari Dermaga Tanjung Pinang menggunakan perahu motor kecil atau yang disebut dengan pompong. Untuk menaiki pompong, dikenakan biaya Rp 5.000-Rp 10.000 per orang. Atau jika ingin menyewa, dikenakan biaya sebesar Rp 80.000 per pompong yang akan membawa penumpang pergi-pulang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Untuk mengelilingi pulau ini, pengunjung dapat menggunakan becak motor (bemor) yang dapat disewa dengan harga Rp 20.000. Di Pulau ini, pengunjung tidak akan menemukan mobil atau kendaraan sejenisnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Nama Pulau tempat makam RAH bernaung, Penyengat, selalu dikait-kaitkan dengan nama besar sang pujangga besar nusantara tersebut. Oleh masyarakat Melayu, khususnya di semenanjung Malaka, nama ini dianggap sebagai pahlawan besar yang layak diagungkan dan dimonumenkan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Nama lengkap Raja Ali Haji adalah Raja Ali al-Hajj ibni Raja Ahmad al-Hajj ibni Raja Haji Fisabilillah bin Opu Daeng Celak alias Engku Haji Ali ibni Engku Haji Ahmad Riau. Dia dilahirkan pada tahun 1808 M/1193 H di pusat Kesultanan Riau-Lingga di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, dan meninggal pada tahun 1873 M di pulau itu juga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pulau Penyengat sebagai tempat kelahiran RAH memiliki arti khusus dalam pembentukan kepribadiannya. Di pulau inilah dia mendedikasikan pengetahuan kepada suluruh masyarakat Riau, dan kemudian menyebar ke seluruh wilayah Nusantara. Konon, sebelum dijadikan pusat kerajaan, Penyengat dikenal sebagai pulau yang sering dikunjungi oleh para nelayan atau pelaut yang ingin mencari air bersih. Pada suatu waktu, saat mengambil air, seorang di antara mereka dikejar-kejar oleh sejenis hewan yang punya alat sengat. Sejak saat itulah pulau ini oleh masyarakat sekitar disebut sebagai Pulau Penyengat. Selain itu, Penyengat juga dikenal sebagai Pulau Mas Kawin. Menurut legenda masyarakat Melayu, pulau ini dihadiahkan Sultan Mahmud Marhum Besar, Sultan Riau-Lingga periode 1761-1812 M, kepada Engku Putri Raja Hamidah, sebagai mas kawin untuk meminangnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Karena jasanya yang begitu besar, maka pada tanggal 10 November 2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada RAH, pada saat peringatan Hari Pahlawan 10 November di Istana Negara, Jakarta. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pulau Penyengat yang hanya memiliki lebar sekitar satu kilometer dan panjang sekitar dua sampai tiga kilometer ini juga terdapat puluhan situs bersejarah peninggalan sultan, entah itu berbentuk istana, gedung mahkamah, tempat mandi, gedung tabib, masjid, ataupun makam termasuk di dalamnya Makam Raja Ali Haji sendiri. Beragam situs bersejarah yang menyebar di pulau ini seolah terangkai dalam satu kontinum yang menggambarkan kebesaran sejarah kerajaan Malayu Riau.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kompleks makam Raja Ali Haji terkesan sederhana, terletak di kaki bukit kecil yang dikelilingi oleh pohon rindang ambacang, mengkudu, dan jambu. Ada beberapa bangunan di kompleks pemakaman ini, di antaranya sebuah masjid mini, berkubah, dan bermihrab. Dinding-dindingnya didominasi warna kuning dan sedikit warna hijau, dengan jendela bulat layaknya jendela kapal. Di dalam bangunan utama ini terdapat cuplikan “Gurindam Dua Belas”. Makam Raja Ali Haji sendiri terletak di luar bangunan utama dengan naungan atap berwarna hijau. Tidak adanya dinding penyekat yang menutupi makam seolah membiarkan para peziarah masuk dan melihat secara lebih leluasa. Dua nisan di atas makam ini dibungkus rapi oleh kain berwarna kuning, mirip seperti cara membungkus jenazah saat prosesi penguburan. Mengamati detail makam ini, pengamat akan segera menangkap tulisan di atas makam yang berbunyi: “Raja Ali Haji, Terkenal, Gurindam XII”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sebenarnya dalam kompleks ini terdapat banyak makam para Raja Kesulatanan Riau Lingga yang bersanding sisi dengan makam Raja Ali Haji. Makam permaisuri terletak di bangunan utama, sedangkan makam raja laki-laki, seperti Raja Ahamad Syah, Raja Abdullah Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga IX, dan Raja Ali Haji sendiri terdapat di luar ruangan. Makam Engku Putri Raja Hamidah yang secara simbolis merupakan pemilik mas kawin Pulau Penyengat dari Sultan Mahmud Marhum Besar, terdapat di dalam ruang utama. Selain itu, masih terdapat banyak makam orang-orang yang punya hubungan kekerabatan kerajaan di luar pagar kompleks makam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Melongok makam RAH mungkin akan menimbulkan kesan unik bagi pengunjung. Pasalnya, meski secara resmi dikenal sebagai kompleks makam Engku Putri Raja Hamidah, pengelola makam sengaja menonjolkan atribut formal untuk penghormatan terhadap Raja Ali Haji. Lihat saja, dua baliho yang merujuk pada kebesaran sang pujangga: “Raja Ali Haji Pahlawan Nasional Bidang Bahasa Indonesia” dan sebuah lagi, “Raja Ali Haji Bapak Bahasa Melayu-Indonesia, Budayawan di Gerbang Abad XX”. Mungkin hal ini dimaksudkan sebagai penghormatan terhadap tokoh besar Nusantara (RAH) yang ditabalkan oleh Keppres RI Nomor 089/TK/2004 sebagai Pahlawan Nasional, tanpa menafikan penghormatan terhadap raja-raja lain dalam makam ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Bila masih belum puas mengunjungi makam RAH, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan wisatanya di pulau kecil ini. Di antaranya adalah Istana Kedaton tempat Sultan Riau-Lingga terakhir tinggal; Istana Bahjah tempat tinggal Raja Ali Kelana, Gedung Hakim Mahkamah Syariah Raja Haji Abdullah dengan tiang-tiang kukuh menyerupai bangunan Yunani kuno, Gedung Tabib, bekas tempat praktek Engku Haji Daud, tabib kerajaan, dan Perigi Kunci, tempat mandi putri istana. Selain situs-situs sejarah ini juga masih terdapat situs lain di antaranya makam Yang Dipertuan Muda Riau IV Raja Haji Fisabilillah, Tapak Percetakan Kerajaan, Benteng Bukit Kursi, Makam Embung Fatimah di Bukit Bahjah, dan Bukit Penggawa. Daftar situs-situs sejarah ini tercatat rapi pada katalog wisata yang dijajakan penduduk kepada para wisatawan saat mengunjungi Pulau Penyengat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sumber: ANI - Kompas&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6961852466685773558-7814292312726653125?l=wahyuhidayatboerhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahyuhidayatboerhan.blogspot.com/feeds/7814292312726653125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahyuhidayatboerhan.blogspot.com/2010/02/kerajaan-penyengat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6961852466685773558/posts/default/7814292312726653125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6961852466685773558/posts/default/7814292312726653125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahyuhidayatboerhan.blogspot.com/2010/02/kerajaan-penyengat.html' title='Kerajaan Penyengat'/><author><name>wahyuhidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03136917016985406082</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4VU-7eq2pI/AAAAAAAAAAM/Fx4L-RNCsQ8/S220/PhotoDayat.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4aoNv_9buI/AAAAAAAAAEY/p4qdfy11PPU/s72-c/Penyengat1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6961852466685773558.post-3026046506711588763</id><published>2010-02-24T09:56:00.000-08:00</published><updated>2010-02-24T10:50:17.525-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Candi Muara Takus</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4VthYZ5j-I/AAAAAAAAADo/pZVfwxkvXKo/s1600-h/takus1.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 201px; FLOAT: left; HEIGHT: 123px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441876145001304034" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4VthYZ5j-I/AAAAAAAAADo/pZVfwxkvXKo/s320/takus1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;p&gt;&lt;?xml:namespace prefix = v ns = "urn:schemas-microsoft-com:vml" /&gt;&lt;v:shape style="Z-INDEX: 1; POSITION: absolute; MARGIN-TOP: 0px; WIDTH: 209.25pt; HEIGHT: 96pt; VISIBILITY: visible; MARGIN-LEFT: 0px; mso-wrap-style: square; mso-wrap-distance-left: 0; mso-wrap-distance-top: 0; mso-wrap-distance-right: 0; mso-wrap-distance-bottom: 0; mso-position-horizontal: left; mso-position-horizontal-relative: text; mso-position-vertical: absolute; mso-position-vertical-relative: line" id="Picture_x0020_3" type="#_x0000_t75" spid="_x0000_s1028" allowoverlap="f"&gt;&lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.jpg" href="file:///F:\Simpan\My%20Websites\20090505\images\takus1.jpg"&gt;&lt;/v:imagedata&gt;&lt;?xml:namespace prefix = w ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:word" /&gt;&lt;w:wrap type="square" anchory="line"&gt;&lt;/w:wrap&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Candi Muara Takus adalah sebuah candi budha yang terletak di Riau, Indonesia. Kompleks candi ini tepatnya terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XII Koto, Kabupaten Kampar atau jaraknya kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru, Riau. Jarak antara kompleks candi ini dengan pusat desa Muara Takus sekitar 2,5 Kilomete dan tak jauh dari pinggir Sungai Kampar Kanan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kompleks candi ini dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter diluar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat pula bangunan Candi Tua, Candi Bungsu dan Mahligai Stupa serta Palangka. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4Vra33dStI/AAAAAAAAADg/5CJGv1N4Cyg/s1600-h/Takus2.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 210px; FLOAT: left; HEIGHT: 141px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441873834164439762" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4Vra33dStI/AAAAAAAAADg/5CJGv1N4Cyg/s320/Takus2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Bahan bangunan candi terdiri dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Menurut sumber tempatan, batu bata untuk bangunan ini dibuat di desa Pongkai, sebuah desa yang terletak di sebelah hilir kompleks candi. Bekas galian tanah untuk batu bata itu sampai saat ini dianggap sebagai tempat yang sangat dihormati penduduk. Untuk membawa batu bata ke tempat candi, dilakukan secara beranting dari tangan ke tangan. &lt;/span&gt;&lt;v:shape style="Z-INDEX: 2; POSITION: absolute; MARGIN-TOP: 0px; WIDTH: 157.5pt; HEIGHT: 105.75pt; VISIBILITY: visible; MARGIN-LEFT: 0px; mso-wrap-style: square; mso-wrap-distance-left: 0; mso-wrap-distance-top: 0; mso-wrap-distance-right: 0; mso-wrap-distance-bottom: 0; mso-position-horizontal: left; mso-position-horizontal-relative: text; mso-position-vertical: absolute; mso-position-vertical-relative: line" id="Picture_x0020_4" type="#_x0000_t75" spid="_x0000_s1027" allowoverlap="f"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image002.jpg" href="file:///F:\Simpan\My%20Websites\20090505\images\Takus2.jpg"&gt;&lt;/v:imagedata&gt;&lt;w:wrap type="square" anchory="line"&gt;&lt;/w:wrap&gt;&lt;/span&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Cerita ini walaupun belum pasti kebenarannya memberikan gambaran bahwa pembangunan candi itu secara bergotong royong dan dilakukan oleh orang ramai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4VqrqQbccI/AAAAAAAAADY/jEhJQJoz6Co/s1600-h/Takus3.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 236px; FLOAT: left; HEIGHT: 158px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441873023057228226" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4VqrqQbccI/AAAAAAAAADY/jEhJQJoz6Co/s320/Takus3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Selain dari Candi Tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka, di dalam kompleks candi ini ditemukan pula gundukan yang diperkirakan sebagai tempat pembakaran tulang manusia. Diluar kompleks ini terdapat pula bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kompleks Candi Muara Takus, satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat Buddhistis ini merupakan bukti pernahnya agama Buddha berkembang di kawasan ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kendatipun demikian, para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad kesebelas, ada yang mengatakan abad keempat, abad ketujuh, abad kesembilan dan sebagainya. Yang jelas kompleks candi ini merupakan peninggalan sejarah masa silam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sumber: iselantang di/pada Oktober 15, 2007&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;p&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" stroked="f" filled="f" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t"&gt;&lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;&lt;/v:stroke&gt;&lt;v:formulas&gt;&lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:formulas&gt;&lt;v:path gradientshapeok="t" extrusionok="f" connecttype="rect"&gt;&lt;/v:path&gt;&lt;?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /&gt;&lt;o:lock aspectratio="t" ext="edit"&gt;&lt;/o:lock&gt;&lt;/v:shapetype&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6961852466685773558-3026046506711588763?l=wahyuhidayatboerhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahyuhidayatboerhan.blogspot.com/feeds/3026046506711588763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahyuhidayatboerhan.blogspot.com/2010/02/candi-muara-takus.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6961852466685773558/posts/default/3026046506711588763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6961852466685773558/posts/default/3026046506711588763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahyuhidayatboerhan.blogspot.com/2010/02/candi-muara-takus.html' title='Candi Muara Takus'/><author><name>wahyuhidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03136917016985406082</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4VU-7eq2pI/AAAAAAAAAAM/Fx4L-RNCsQ8/S220/PhotoDayat.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4VthYZ5j-I/AAAAAAAAADo/pZVfwxkvXKo/s72-c/takus1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6961852466685773558.post-5028162920533366595</id><published>2010-02-24T08:45:00.000-08:00</published><updated>2010-02-24T10:50:17.542-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Kerajaan Siak</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4VmSTTWnbI/AAAAAAAAACo/EshOsdtyHts/s1600-h/sultan3.gif"&gt;&lt;/a&gt;&lt;font size="0"&gt;&lt;font size="0"&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4VmC9cwFyI/AAAAAAAAACg/juA_bEPRR4U/s1600-h/Istana+Siak.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 230px; FLOAT: left; HEIGHT: 170px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441867925788038946" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4VmC9cwFyI/AAAAAAAAACg/juA_bEPRR4U/s320/Istana+Siak.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4VlLvJErbI/AAAAAAAAACY/tqSUqn1Oiy0/s1600-h/sultan3.gif"&gt;&lt;/a&gt;&lt;font class="Apple-style-span" face="Calibri"&gt;Kerajaan Siak Sri Indrapura didirikan pada tahun 1723 M oleh Raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul JalilRahmat Syah putera Raja Johor (Sultan Mahmud Syah) dengan istrinya Encik Pong, dengan pusat kerajaan berada di Buantan. Konon nama Siak berasal dari nama sejenis tumbuh-tumbuhan yaitu siak-siak yang banyak terdapat di situ.&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="Calibri"&gt;Sebelum kerajaan Siak berdiri, daerah Siak berada dibawah kekuasaan Johor. Yang memerintah dan mengawasi daerah ini adalah raja yang ditunjuk dan di angkat oleh Sultan Johor. Namun hampir 100 tahun daerah ini tidak ada yang memerintah. Daerah ini diawasi oleh Syahbandar yang ditunjuk untuk memungut cukai hasil hutan dan hasil laut.&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;Pada awal tahun 1699 Sultan Kerajaan Johor bergelar Sultan Mahmud Syah II mangkat dibunuh Magat Sri Rama, istrinya yang bernama Encik Pong pada waktu itu sedang hamil dilarikan ke Singapura, terus ke Jambi. Dalam perjalanan itu lahirlah Raja Kecik dan kemudian dibesarkan di Kerajaan Pagaru Sementara itu pucuk pimpinan Kerajaan Johor diduduki oleh Datuk Bendahara tun Habib yang bergelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah. Setelah Raja Kecik dewasa, pada tahun 1717 Raja Kecik berhasil merebut tahta Johor. Tetapi tahun 1722 Kerajaan Johor tersebut direbut kembali oleh Tengku Sulaiman ipar Raja Kecik yang merupakan putera Sultan Abdul Jalil Riayat Syah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4Vy_m1SVZI/AAAAAAAAAEQ/KAlmOAg9ouU/s1600-h/sultan2.gif"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 141px; FLOAT: left; HEIGHT: 232px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441882161828484498" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4Vy_m1SVZI/AAAAAAAAAEQ/KAlmOAg9ouU/s320/sultan2.gif" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dalam merebut Kerajaan Johor ini, Tengku Sulaiman dibantu oleh beberapa bangsawan Bugis. Terjadilah perang saudara yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar pada kedua belah pihak, maka akhirnya masing-masing pihak mengundurkan diri. Pihak Johor mengundurkan diri ke Pahang, dan Raja Kecik mengundurkan diri ke Bintan dan seterusnya mendirikan negeri baru di pinggir Sungai Buantan (anak Sungai Siak). Demikianlah awal berdirinya kerajaan Siak di Buantan. Namun, pusat Kerajaan Siak tidak menetap di Buantan. Pusat kerajaan kemudian selalu berpindah-pindah dari kota Buantan pindah ke Mempura, pindah kemudian ke Senapelan Pekanbaru dan kembali lagi ke Mempura. Semasa pemerintahan Sultan Ismail dengan Sultan Assyaidis Syarif Ismail Jalil Jalaluddin (1827-1864) pusat Kerajaan Siak dipindahkan ke kota Siak Sri Indrapura dan akhirnya menetap disana sampai akhirnya masa pemerintahan Sultan Siak terakhir. Pada masa Sultan ke-11 yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin yang memerintah pada tahun 1889 ? 1908, dibangunlah istana yang megah terletak di kota Siak dan istana ini diberi nama Istana Asseraiyah Hasyimiah yang dibangun pada tahun 1889. Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim ini Siak mengalami kemajuan terutama dibidang ekonomi. Dan masa itu pula beliau berkesempatan melawat ke Eropa yaitu Jerman dan Belanda. Setelah wafat, beliau digantikan oleh putranya yang masih kecil dan sedang bersekolah di Batavia yaitu Tengku Sulung Syarif Kasim dan baru pada tahun 1915 beliau ditabalkan sebagai Sultan Siak ke-12 dengan gelar Assayaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin dan terakhir terkenal dengan nama Sultan Syarif Kasim Tsani (Sultan Syarif Kasim II). yung Minangkabau. Bersamaan dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia, beliau pun mengibarkan bendera merah putih di Istana Siak dan tak lama kemudian beliau berangkat ke Jawa menemui Bung Karno dan menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia sambil menyerahkan Mahkota Kerajaan serta uang sebesar Sepuluh Ribu Gulden. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4VwSFItppI/AAAAAAAAAEI/ZA4W1OuqZYk/s1600-h/sultan3.gif"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 141px; FLOAT: left; HEIGHT: 188px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441879180665792146" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4VwSFItppI/AAAAAAAAAEI/ZA4W1OuqZYk/s320/sultan3.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dan sejak itu beliau meninggalkan Siak dan bermukim di Jakarta. Baru pada tahun 1960 kembali ke Siak dan mangkat di Rumbai pada tahun 1968. Beliau tidak meninggalkan keturunan baik dari Permaisuri Pertama Tengku Agung maupun dari Permaisuri Kedua Tengku Maharatu. Pada tahun 1997 Sultan Syarif Kasim II mendapat gelar Kehormatan Kepahlawanan sebagai seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Makam Sultan Syarif Kasim II terletak ditengah Kota Siak Sri Indrapura tepatnya disamping Mesjid Sultan yaitu Mesjid Syahabuddin. Diawal Pemerintahan Republik Indonesia, Kabupaten Siak ini merupakan Wilayah Kewedanan Siak di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Siak. Barulah pada tahun 1999 berubah menjadi Kabupaten Siak dengan ibukotanya Siak Sri Indrapura berdasarkan UU No. 53 Tahun 1999.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sumber: Portal Pemda Siak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="MARGIN: 0in 0in 10pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6961852466685773558-5028162920533366595?l=wahyuhidayatboerhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahyuhidayatboerhan.blogspot.com/feeds/5028162920533366595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahyuhidayatboerhan.blogspot.com/2010/02/kerajaan-siak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6961852466685773558/posts/default/5028162920533366595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6961852466685773558/posts/default/5028162920533366595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahyuhidayatboerhan.blogspot.com/2010/02/kerajaan-siak.html' title='Kerajaan Siak'/><author><name>wahyuhidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03136917016985406082</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4VU-7eq2pI/AAAAAAAAAAM/Fx4L-RNCsQ8/S220/PhotoDayat.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vq6vcSMivWk/S4VmC9cwFyI/AAAAAAAAACg/juA_bEPRR4U/s72-c/Istana+Siak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
